Rabu, 05 Juni 2013

Kehamilan Pada Remaja


Dengan melihat fenomena yang ada pada saat ini banyak sekali terjadi kehamilan pada remaja. Kasus-kasus kehamilan remaja sebagai akibat perilaku seksual dikalangan remaja juga mulai meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan Australian National University dan Universitas Indonesia (UI) terhadap remaja di Indonesia kondisinya sangat memprihatinkan, dari 3.600 responden penelitian didapatkan bahwa sebanyak 20,9 persen remaja tersebut telah hamil di luar nikah. Kehamilan remaja disebabkan karena pergaulan remaja yang semakin bebas dan juga karena adanya kebiasaan masyarakat yang menikahkan anak perempuannya yang masih di bawah umur.

Ambisi, aspirasi, prestasi akademik, dan kesenangan di sekolah merupakan faktor penunjang aktivitas seksual dan tanggung jawab peran sebagai orang tua di usia dini, baik direncanakan maupun tidak.
Faktor penyebab kehamilan pada remaja, antara lain :
  1. Gaya hidup dan perilaku seks yang bebas mempercepat peningkatan kejadian kehamilan pada remaja. Hal ini disebabkan oleh cepatnya pertumbuhan dan perkembangan remaja dan masa menarche yang dirangsang oleh banyaknya media yang mempertontonkan kehidupan seks bebas yang tidak bertanggung jawab.
  2. Kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi dan KB yang menyebabkan remaja tidak dapat mencari alternatif perlindungan untuk dirinya dalam mencegah kehamilan.
  3. Sosial budaya juga mempengaruhi kehamilan usia remaja. Di pedesaan perkawinan terjadi pada saat umur belia yang diikuti dengan kehamilan. Hal ini karena budaya yang masih melekat dengan asumsi untuk membebaskan tanggung jawab orang tua maka mereka akan menyerahkan tugasnya pada suami dengan menikahkan anaknya.
  4. Keadaan ekonomi yang tidak mencukupi mendorong seseorang mencari pelindung yang bertanggung jawab penuh terhadap dirinya hal ini hanya dapat tercapai bila menikah dan untuk memperingan beban dan tanggung jawab orang tua.
Menjadi orang tua di usia remaja dianggap sebagai penyebab sekaligus akibat eksklusi sosial. Orang tua yang masih remaja cenderung tidak bekerja, hidup dalam kemiskinan, dan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah yang saat toddler cenderung berisiko mengalami kecelakaan di masa kanak-kanak. Keterkaitan dengan eksklusi sosial memiliki makna bahwa orang tua yang masih remaja cenderung memiliki status kesehatan yang lebih buruk, lebih sulit mengakses dukungan kesehatan dan dukungan masyarakat, serta memperoleh hasil kesehatan yang lebih buruk bagi diri dan bayi mereka. Sebagian remaja memandang kehamilan sebagai pengalaman yang positif dan menyenangkan, namun sebagian lain justru mengungkapkan dampak negatif kehamilan.
Penelitian mengungkapkan (Swan et al.,2003) bahwa kaum muda yang menjadi orang tua memiliki kondisi kesehatan dan sosial yang lebih buruk, yang disebabkan oleh akses yang tidak adekuat dalam memperoleh perawatan dan dukungan yang tepat.
Penanganan yang bijaksana meliputi, antara lain :
  1. Konseling prakonsepsi sangat dianjurkan bagi remaja menikah dan perawatan perinatal yang adekuat dapat membantu mendeteksi dan mengurangi risiko kehamilan pada remaja. Dengan cara pantau keseimbangan kebutuhan nutrisi selama hamil, gali masalah dan keluhan dengan seksama untuk skrining dini risiko kehamilan dan persalinan dan waspai gejala- gejala kegawatdaruratan/ komplikasi yang memerluka tindakan segera.
  2. Dalam menghadapi proses persalinan perlu dukungan penuh dari keluarga dan rencana persalinan yang adekuat, dimana dan siapa yang akan menolong pada saat persalinan. Upayakan pelayanan komprehensif sedekatnya pada remaja kehamilan risiko tinggi. Konseling yang memadai dapat meningkatkan kewaspadaan ibu hamil dan keluarga.
  3. Pendekatan psikologis dan rasional dengan bersahabat pada remaja perlu dilakukan dengan tidak menghakimi, memberikan dukungan psikologis, interaksi sosial yang terjaga sehingga remaja merasa terbuka terhadap masalah- masalah sosial, psikologis dan kesehatan yang dialaminya.
  4. Mendampingi ibu hamil pada usia remaja sangat dianjurkan sebagai tindakan promotif dan preventif dalam mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi.
  5. Persiapkan metode rujukan yang tepat dan terencana bila saat persalinan tiba maupun terjadi kegawatdaruratan obstetri yang memerlukan pertolongan ahli pada fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.
Bidan merupakan tenaga kesehatan utama yang menangani ibu muda, baik yang mendapat dukungan maupun yang tidak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar